Buscar

Memuat...

Nona Manis Weleh Weleh

"Dagna .. kalo besar nanti, kaya ammah Peppie ya. Baik hati dan akhlaknya. Insya Allah .. "
Pernah kubilang seperti itu pada putri kecilku. Setidaknya putriku memcontoh yang lebih baik dari diriku. Ambu pun tetap berusaha untuk menjadi lebih baik.

Peppie itu nama panggilan sahabat terbaikku. Saking baiknya, nyaris tak ada celah untuk kekurangannya. Itu dimataku. Kerendahan hatinya yang menjadi kekagumanku.

Setiap kali bertatap mata dengannya. Kuyakinkan siapa pun yang melihatnya akan tersenyum padanya. Senyum yang selalu mengiri langkahnya membuat siapa saja yang melihatnya langsung adem nyess nyess 😂. Serius loh, pernah kutulis juga tentangya. Pengendara motor lain saja, saat berpapasan dengannya sampe oleng dibuatnya, hahaha 😂. Itu baru satu yang kutulis. Padahal yang dibuat oleng banyak banget 😂.

Ia selalu punya cara membuatku tertawa. Rahasia ini mah, karna belum pada tau deh yang lain mah. Anak ini diam-diam punya sisi humoris. Ssssttt cukup tau aja ya, hahaa. Jadi kalo ia melihat sesuatu hal yang janggal, aneh, tidak sesuai pada tempatnya. Misal saja, ada orang lewat didepan kami, sesuatu menjadi pusat perhatiannya, ada celah yang bisa ia kulik untuk dijadikan bahan obrolan. Hahaa kalo udah begini, aku paling sebel banget, karna aku berusaha untuk menahan tawa. Berharap orang didepanku tak tau kami memperhatikannya 😂. Ini bukan meledek ya, tapi membuka obrolan bagaimana seharusnya berpenampilan. NGELES 😂

Parasnya yang biasa aja 😜 namun menjadi luar biasa dengan pembawaannya. Ramah ke siapa pun. Hormat ke siapa pun. Itu yang kulihat. Tak pernah merasa dirinya lebih baik, tak pernah sedikitpun berusaha untuk mengguruiku atau siapa pun. Padahal ia bisa saja menatarku, menasehatiku dengan kelebihan ilmu yang ia punya. Namun itu tidak dilakukanya. Cukup dengan memberikan contoh yang baik untukku, aku memahami maksudnya. Hanya saja aku butuh proses untuk menjadi lebih baik seperti dirinya. Aamiin.

Penampilannya yang anggun berbalut jilbab syar'i mampu memesona banyak orang. Ia berhasil mencontohkan padaku beginilah muslimah seharusnya. Semua serba pas melekat dengannya, semakin pas dengan kebaikan hatinya, sempurna. Insya Allah.

Sering kali aku dikejutkan oleh sikapnya. Ia yang menyentilku untuk lebih peka dengan sekitar. Saat teman bahkan dosen ada yang sakit, saat temen bahkan dosen ada yang berulang tahun, saat mengerjakan tugas bersama, saat ada yang membutuhkan bantuannya, saat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, saat itu juga ia mampu memberikan ide yang luar biasa. Ide-ide yang belum terpikirkan olehku. 

Ia tak bisa marah, tapi ia ratunya ngambek, hahaa 😜. Sepertinya ia bingung mengekspresikan kekecewaannya, jadilah raut wajahnya berubah memble dan manyun. Nah ini hal lucu yang kulihat darinya. Kalo lagi ngambek mirip anak kecil yang kemauannya gak diturutin. Tidak merengek di lantai dengan kaki digoyang-goyang. Tidak juga dengan berteriak. Ia cukup diam saja. Kelihatan sekali kalau ia sedang tidak enak hati. Sebenernya sih agak horor kalo ia sudah bersikap seperti itu, tapi aku yang melihatnya malah mau ketawa 😂. Ngambeknya tidak akan bertahan lama. Karna ia tak mampu berlama-lama bersikap jelek 😜. Mau dikemanain senyumnya? hahaaa.

Bukan cantik yang kulihat, tapi manis. Jika kuberikan pilihan, cantik atau manis? Pilih mana?. Kurasa manis melebihi cantik. Manis membuat siapapun yang memilikinya, tak akan bosan memandanya. Tsaa ilaahhh .. bisa megar-megar kembang-kempis idungnya kalo sampai baca tulisanku ini.

Hei  NMW 'nona manis weleh weleh' cieee .. sekarang udah berstatus menikah euy. Selamat ya sayang. Alhamdulillah .. semoga sakinah, mawaddah wa rahmah. Bahagia selalu. Saling mengisi dalam kelebihan dan kekurangan, saling melengkapi dalam hal pemikiran, saling meminta maaf, saling berlembut hati, saling berpelukan eh 😂. 

Sampaikan salam hormatku untuk Mas tak uu 😂. Selamat ya Mas. Berhadapan dengan Peppie cukup pakai strategi yang paling sederhana saja. Tak perlu jurus Singa meminta maaf, bahkan tak perlu panggil Pawang hujan kalo doi lagi ngambek. Mau tau caranya, inbox ya brow😂.

Semoga Allah memberkahi kalian berdua
dalam susah maupun senang dan menghimpun
kalian dalam kebaikan (HR. Thirmidzi)

*201116
YM




Sejuta Rasa Cinta

Alhamdulillah ya Allah. Biarpun baru bisa berjalan dan berlari seperti putri kami Dagna, yang kadang berjalan pun masih oleng, apalagi untuk berlari masih sempoyongan, pandangan mata kecilnya belum menyeluruh kemudian terjatuh sekali duakali karna tersandung batu kecil. Bangun kembali dan tidak jera untuk berlari kembali. Kami akan terus belajar hingga kami mampu berdiri, berjalan dan berlari tanpa oleng sedikit pun. InsyaAllah, semoga Allah melindungi kami.

Tiga tahun kami bersama merajut cinta. Ya cinta. Keceriaan dengan tawa panjang kali lebar saat kita saling becanda, itu Cinta. Kadang yang dibecandaiin lagi sensi dan malah jadi ngambek itu Cinta. Membuka pintu saat Satriabajahideung pulang kerja dengan senyum tanpa kata pun itu Cinta atau malah menyambutnya dengan segala cerita Dagna dari A-Z itu juga Cinta. Melakukan pekerjaan rumah dengan segala perintilan ini ono preketek preketek itu Cinta. Menjaga buah hati yang kadang mirip mandor bolak balik petantang petenteng kesana kemari meriksa setiap sudut ruangan, kemudian ruangan menjadi bak kapal sedang oleng maloleng karna ombak yang besar itu pun Cinta. Semua yang terjadi dalam hitungan sekian detik, menurutku itu Cinta. Bahkan kemarahan yang meletup letup padahal itu hal sepele kemudian berujung saling ledek dan peluk itu adalah Cinta. Cinta tak terlihat, namun bisa dirasakan. Ettsss bukan Kentut yak 󾌴. Kalau kata Ibu kecil semampai bak model pragawati 'sahabatku', tulisan yang seupil ini pun dibilang Cinta, tencu bu udah ikhlas menerima upil 󾌴.

Ya Allah, nikmat-Mu begitu indah. Setiap yang kami kerjakan adalah ibadah. Pahala yang ditebar Allah tak terhitung. Semoga Allah meridhoi apa yang kami kerjakan. Semoga kami menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. Suka dan duka semoga menjadi kekuatan kami dalam merajut Cinta. Semoga kami bisa mencontoh keharmonisan putri Rasulullah SAW 'Fatimah Az-Zahra' yang menjadi istri 'Ali bin Abi Thalib'. Aamiin ya Allah

-----------------
*Kisah Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib*
Sumber : http://www.percikaniman.org/category/artikel-islam/kisah-harmonis-keluarga-ali-dan-fatimah

Fatimah yang Giat Beribadah
Fathimah adalah putri keempat Rasulullah Saw. dan Khadijah Al-Kubra. Dalam kehidupan berumah tangga, ia adalah seorang figur dan dalam hal beribadah kepada Allah ia juga dikenal sebagai teladan. Setelah selesai dari semua kewajiban sebagai ibu rumah tangga, Fatimah akan dengan penuh khusyuk dan rendah hati beribadah kepada Allah serta berdoa untuk kepentingan orang lain.

Imam Shadiq meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Imam Hasan bin Ali berkata, "Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang lain dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya, 'Ibu, mengapa kau tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana kau mendoakan orang lain?' 'Tetangga harus didahulukan, wahai putraku,' jawabnya singkat."

Saling Bahu Menjalankan Tugas Suami Istri
Fatimah dan Ali senantiasa saling bahu dalam menegakkan tiang kehidupan rumah tangga yang selalu dilandaskan pada hubungan cinta kasih, tolong menolong, kerja sama, dan saling menghormati. Pada suatu hari, Fatimah jatuh sakit. Ali pun sedih. Ali menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan Fatimah dan menggantikan tugasnya selama sakit.

"Beristirahatlah agar sakitmu segera hilang," katanya kepada Fatimah.
"Aku telah cukup beristirahat, sampai-sampai aku malu apabila melihatmu mengerjakan tugas-tugas seorang ibu," jawab Fatimah dengan suara lirih.
"Jangan pikirkan itu. Bagiku semua itu sangat menyenangkan. Lagipula, setelah engkau sembuh nanti, semua tugas, engkaulah yang akan mengerjakannya," ujar Ali.
"Wahai istriku, adakah engkau menginginkan sesuatu?" tanya Imam Ali dengan tiba-tiba.
Fatimah terdiam sebentar, kemudian berkata, "Sesungguhnya sudah beberapa hari ini aku menginginkan buah delima."
"Baiklah, aku akan membawakannya untukmu dengan rezeki yang diberikan Allah kepadaku," kata Ali sambil bersiap keluar rumah. Ali langsung menuju pasar meskipun dengan uang pas-pasan.

Kisah tersebut di atas sudah sepatutnya dapat menginspirasi suami istri untuk saling menghargai. Meski berkedudukan sebagai kepala rumah tangga, Ali tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh kaum wanita. Ini merupakan tanda bukti kecintaan Ali pada istri yang sangat disayanginya. Sebaliknya, Fatimah juga selalu memberi dukungan penuh terhadap suaminya ketika sedang menjalankan tugas negara atau segala hal yang berhubungan dengan perjuangan menegakkan ajaran Islam. Selain itu, Fatimah juga dikenal sebagai pribadi yang mau mengesampingkan kepentingan dirinya demi perjuangan Islam serta semua ajarannya.

Saat Menghadapi Krisis Ekonomi
Saat menjalani krisis ekonomi, pernah tiga hari Fatimah tidak makan dan ketika Ali melihatnya pucat, ia berkata, "Ada apa denganmu wahai Fatimah?"
Fatimah menjawab, "Selama 3  hari kami tidak ada (makan) apa-apa di rumah".
Ali berkata, "Kenapa kamu tidak memberitahu aku?"
Fatimah menjawab, "Pada malam pertama, ayahku Rasulullah Saw. berkata kepadaku: 'Wahai Fatimah, jika Ali datang membawa sesuatu makanlah, jika tidak jangan kamu minta.'"

Rupanya Fatimah mengerti benar posisi Ali pada saat itu. Kesibukan Ali dalam berdakwah dan berjihad membuat Fatimah tidak mau mengusiknya dengan masalah ekonomi rumah tangga agar konsentrasi suaminya tidak terpecah. Pengertian dan kesabaran Fatimah bukanlah hal yang tanpa pemahaman: mana yang termasuk kesesangsaraan dan mana yang termasuk amalan baik. Menahan lapar apabila dikerjakan karena Allah Swt. dan diniatkan agar suami tidak terbebani akan menjadi amalan yang mendapatkan pahala besar dari-Nya.

Isyarat penting dalam kisah tersebut adalah bahwa persoalan ekonomi dan tekanan kebutuhan rumah tangga tidak harus menjadi hal yang menimbulkan konflik. Segala persoalan rumah tangga apabila diselesaikan dengan penuh sakinah mawadah warahmah (ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang), isnya Allah akan membuat hubungan suami istri tetap harmonis.

Pada suatu kesempatan, Ali bertanya kepada Fatimah mengenai boleh tidaknya ia mendapatkan pembantu dari Rasulullah Saw. Ketika Fatimah datang ke rumah ayahnya, banyak tamu yang datang menemui beliau sehingga Fatimah tidak bisa mengutarakan maksudnya. Keesokan harinya, Rasul datang ke rumah Ali dan Fatimah. Ketika Rasulullah Saw. bertanya kepada Fatimah tentang maksud kedatangannya kemarin, Fatimah diam saja. Karenanya, Ali pun menceritakan hal yang dimaksud namun Rasulullah Saw. tidak mengabulkan keinginan mereka untuk memiliki pembantu tersebut. Rasul Saw. bersabda, "Bertakwalah kepada Allah, tunaikanlah tugasmu terhadap-Nya, lakukan pekerjaan rumahmu seperti biasa, ucapkanlah subhanallah, alhamdulillah dan Allahu Akbar, ucapan ini akan lebih membantu kalian daripada seorang budak."

Ketika Ali dan Fatimah Berselisih
Kehidupan harmonis Ali dan Fatimah bukannya tanpa mengalami perselisihan. Suatu ketika, Ali pernah berbuat kasar kepada Fatimah. Fatimah kemudian mengancam Ali, "Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Saw!" Fatimah pun pergi kepada Nabi Saw. dan Ali mengikutinya.

Sesampainya di hadapan Rasul, Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali. Nabi Saw. pun menyabarkannya, "Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga, dan pahami bahwa tidak ada kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak membalas kasih sayang suaminya ketika dia tenang."

Ali berkata, "Kalau begitu, aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan."
Fatimah pun berkata, "Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak kamu sukai."
Disebutkan juga dalam riwayat lain bahwa pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah. Lalu Rasulullah Saw. datang dan Ali menyediakan tempat untuk Rasulullah Saw. berbaring. Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi Saw. Ali pun berbaring di sisi lainnya. Rasulullah Saw. mengambil tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau. Selanjutnya beliau mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali. 

Setelah itu barulah beliau keluar. Ada orang yang melihat kejadian itu lalu berkata kepada Rasulullah Saw., "Tadi engkau masuk dalam keadaan demikian (murung), lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di wajahmu." Ia menjawab, "Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang yang paling aku cintai?"
Istri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra dari seorang suami. Namun bagi Fatimah, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah Swt. untuk mencari kasih-Nya dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Sepanjang kepergian Ali, hanya anak-anak yang masih kecil yang menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya (Hassan, Hussein, Muhsin, Zainab, dan Umi Kalsum) diusahakannya sendiri. Untuk mendapatkan air, dia berjalan jauh dan menimba dari sumur yang 40 hasta dalamnya di tengah sinar matahari padang pasir yang terik. Kadangkala harus menahan lapar sepanjang hari. Bahkan ia sering juga berpuasa yang membuat tubuhnya kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.

Pernah suatu hari, ketika ia sedang asyik bekerja menggiling gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Fatimah yang amat keletihan ketika itu meceritakan problem rumah tangganya. Ia bercerita betapa dirinya telah bekerja keras, menyaring tepung, mengangkat air, memasak, serta melayani kebutuhan anak-anak. Ia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Ali agar Ali mencarikannya seorang pembantu.

Rasulullah Saw. merasa kasihan terhadap permasalahan rumah tangga anakanya itu. Namun beliau sangat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk memudahkannya di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhaan-Nya adalah orang yang akan mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah sambil memberi harapan dengan janji-janji Allah. Beliau mengajarkan zikir, tahmid, dan takbir yang apabila diamalkan, segala permasalahan dan beban hidup akan terasa ringan. Ketaatannya kepada Ali akan menyebabkan Allah Swt. mengangkat derajatnya. Sejak saat itu, Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarganya. Ia juga tidak meminta sesuatu yang dapat menyusahkan suaminya.

Dalam kondisi itu, kemiskinan tidak menghilangkan semangat Fatimah untuk selalu bersedekah. Ia tidak sanggup kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Ia tidak rela hidup senang di kala orang lain menderita. Bahkan ia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberi sesuatu, meskipun dirinya sendiri sering kelaparan.

Jangan Segan Meminta Maaf
Pernah suatu hari Fatimah menyebabkan Ali kesal. Menyadari kesalahannya, Fatimah segera meminta maaf berulang kali. Fatimah terngiang nasihat Rasul, "Wahai Fatimah, kalaulah di kala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menshalatkan jenazahmu." Ketika dilihatnya air muka suaminya tidak juga berubah, ia pun berlari-lari seperti anak kecil mengelilingi Ali dan meminta dimaafkan. Melihat aksi istrinya tersebut, Ali tersenyumlah dan lantas memaafkan istrinya itu.

-------------------

Jika kami khilaf, semoga kami diingatkan kembali untuk saling meminta maaf, kembali diingatkan dengan kisah keharmonisan putri Rasulullah SAW dan Ali bin Abi Thalib yang patut dijadikan tauladan. Semoga kami selalu dalam penjagaan-Mu Ya Allah. Aamiin.

Ambu Dagna
6 Juni 2016
1 Ramadhan 1437 H
"Selamat menunaikan Ibadah Puasa"

Bukan Dagna si Jagoan Nenen



Ada rasa gak tega, ada rasa kasihan, ada rasa sedih, ada rasa deg-degan, ada rasa bahagia, semua campur aduk. Aihhh perutku terasa lain dari biasanya, bukan berubah jadi kotak ya 😂. Tiba tiba aku berasa amat sangat lapar, bisa jadi memang belum makan 😁. Disusul rasa yang lain, aku begitu deg-degan, seperti mau ketemu dosen pembimbing yang udah berbulan bulan gak ditemuin. Degdegannya pake kangen kalo itu mah hahaha.

--------
*Seminggu sebelumnya

SATU
"mbuu .. nenen ... nenen"
Jika aku tidak segera mendekat, suaranya semakin meninggi. Bahkan, Dagna akan menghentakkan kakinya (posisi Dagna tidur) dan suaranya semakin meninggi.
"nenen .. nenen .. nenen .. nenen"
Kemudian suaranya tak terdengar, Dagna asik tidur sambil nenen.

DUA
"mbu .. nenen .. nenen"
"ih .. Dagna malu tau, Dagna kan udah gede, giginya udah banyak, coba hitung ... satu dua tiga empat .. wahh ada 16. Jadi makannya harus banyak, nenennya udahan".
Dagna sempat menunjukkan giginya dan segera disusul suara nyaringnya.
"nenen nenen nenennn".
Ahh .. Dagna tidak mau kalah sepertinya.
"iyaudah boleh nenen sekarang mah, tapi nanti dua bulan lagi Dagna gak nenen ya?"
tidak menjawab = lagi nenen = au ah elap 😂

TIGA
"ambuuu ... ambuu .. nenen"
"Dagna kan udah gede, kaka Zaky aja udah gak nenen, mba Ratna juga gak nenen, Mba Andien juga, dede Sakha minum susu Sapi"
Susu sapi yang kujelaskan sebelumnya adalah tidak nenen tapi minum dibotol dot, pakai gelas atau sedotan (susu UHT). Apa yang kusampaikan, Dagna pun sudah mengerti.
"akii .. mba .. aka num susu sapi" Dagna mengulang penjelasanku.
"iyaa minum susu sapi, gak nenen"
"ambu nenen .. nenen mbu" Dagna si jagoan nenen. Weww ...

EMPAT
"mbuu .. antukk .. bobo" Dagna terlihat uring-uringan. Dagna mulai menunjukkan perubahan dari biasanya. Kali ini, Dagna tidak mengaum minta nenen. Hentakkan kaki saat bilang nenen pun mungkin sudah lupa. Kata nenen tidak terucap lagi.
"antuukkk .. mbuu .. antukk"
"yaudah hayo dede bobo, ambu mpok mpok ya" kemudian kususul suara merduku 😂 
"Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak".
Dagna kemudian menunjuk tanpa suara untuk meminta nenen. Segera kuberikan.

LIMA
"ambuu antukkkk"
"yaudah hayo bobo" sambil ku mpok mpok.
"mamau mamau (nggakmau)"
"dede maunya apa?"
"antukk mbu antukk"
"hayo bobo"
"mamau"
"dede mau nenen?"
baru deh Dagna nyebut "nenen"

Obrolan diatas terus berulang dan berulang. sampai pada akhirnya. Perubahan Dagna begitu jelas.

*Rabu (230316)
pagi siang sore masih nenen
malamnya sekitar jam 10an, Dagna sudah mulai ngantuk. Biasanya kan kalau bobo ya harus nenen. 
"antukk antukkk bobooo"
"hayo bobo .. mpok mpok ya" kususul kembali suara merduku #aishhh :D
"mamauu mamau"
"dede mau nenen?"
"mamau mamauu mamau"
Wewwww Dagna tumben banget gak mau nenen.
Guling sana guling sini, merengek sedikit, guling lagi, nyari posisi uenak gak nemu. Cukup lama, akhirnya lep lep lep .. Dagna bobo pemirsaaa 😂.

Malam kebangun, Dagna mintanya minum bukan nenen. Kebangun dua kali untuk minum air.

*Kamis (240316)
Jam 6 pagi Dagna minta nenen, alamakkk. Susu UHT habis disedot, bobo deh. Berhasil dikecoh. Atuh nanggung udah semalaman gak nenen soalnya. Kecoh aja sekalian 😂.

Jam 9 pagi biasanya abis mandi terus makan lalu main, biasanya udah bobo lagi pas jam 10an. Tapi hari ini, mau bobo tanpa nenen Dagna uring uringan. Udah guling sana sini gak bisa bisa juga merem, akhirnya Dagna malah minta main. Siklus bobonya berubah, adaptasi. Jam 2 siang Dagna ngantuk banget, mau bobo tapi gak  bisa bisa. Gak lama nunjuk nunjuk minta nenen. Ohhh .. Dagna. Dikecoh omongan gak mempan. Akhirnya pakai jurus tambahan #inbox ya sist 😂

Lanjutkan dan konsisten itu saja yang kupikirkan.
Begitu cepat seperti training toilet Dagna.
Keren Dagna :*

*catatan : Dagna udah gak pake pempers dan pipis slalu di kamar mandi. Tapi hari Kamis itu Dagna ngompol 4x. Berikutnya normal kembali.

*Jum'at (010416)
Selamat Datang bulan April :*
 

Alhamdulillah atas nikmat-MU

Chemistry Experiment

Loading...

silahkan dibaca, di klik aja :)